Langsung ke konten utama

Postingan

Dia Matahariku

“Kita nonton sunset aja yuk, mau?” “Yuk!” Sampai saat ini aku masih tidak menyangka, seorang pria yang ku temui melalui sebuah foto di tahun 2019. Yang awalnya dingin sedingin salju di kutub, sekarang bisa sehangat matahari. Ia adalah satu-satunya pria yang secara terang-terangan ku minta dan ku diskusikan bersama Semesta melalui sujud di sepertiga malam. Ku sebut ia Matahari , seorang pria yang selalu antusias menyambut hadir dan tenggelamnya sang mentari. Aku tidak menginginkan hadirnya hanya sementara waktu saja. Aku mau ia selamanya; menjadi penerang di saat duniaku sedang redup, menjadi penenang ketika aku butuh sebuah hangat peluk, dan menjadi pemenang dari jutaan cerita yang pernah singgah. Jogja. Jogja menjadi tempat pertama pertemuan kita, bahkan segala cerita tangis dan tawa ada di sana. Jogja menjadi saksi bisu bagaimana aku mendambakan seorang pria yang pada awalnya sangat susah digapai, sekaligus tempat dimana pria yang selalu ku dambakan bersikap hangat padaku. Semesta se...

Rumpang

Terkadang sesekali aku berusaha mengingat tentang pertemuan kita yang begitu singkat rasanya. Mungkin memang hanya aku yang mengingatnya. Bagaimana tidak? Aku menganggapnya sebagai kesan yang begitu berharga. Karena setelahnya, aku mulai berani mendamba. Menggantungkan harap tanpa terencana. Kemudian aku dengan terang meminta dan menyemogakanmu dalam bentuk doa. Sampai akhirnya aku sempat merasakan bagaimana sulitnya memperjuangkanmu dalam keadaan sebagai pengagum rahasia saja. Aku tidak bisa seperti mereka yang bisa dengan lantang menyuarakan rasanya dan mengejar dengan berbagai upaya. Aku pernah merasa mencintaimu begitu dalam. Tanpa pernah bisa ku duga bahwa mungkin saja di kemudian hari rasa itu akan memudar atau bahkan hilang. Aku hanya berani memintamu secara diam-diam. Walau ada banyak luka yang harus ku tahan dengan begitu besarnya pilu yang selalu berusaha ku sembunyikan. Sekarang aku berhenti. Bukan tidak lagi peduli. Bukan tidak lagi ingin memiliki. Hanya saja aku ingin bela...

Satu Waktu

Jadi beberapa waktu yang lalu saya diberi kesempatan oleh Semesta untuk mengenal seseorang. Sebut saja ia Pria. Saya sudah tahu Pria sejak awal tahun 2019, namun kesempatan mengenalnya baru terlaksana di awal tahun ini. Pertemuan pertama dengan Pria, yang saya tahu dia sedikit kritis juga senang diskusi. Ada beberapa sisi dari dirinya yang membuat saya merasa sedikit kagum. Saya kira rasa ini hanya sekadar kagum, ternyata lebih karena saya telah jatuh hati secara sadar kepada Pria. Namun rasa itu dipaksa pudar karena Pria tak menginginkan itu dari saya. “Kak, aku kayanya lagi jatuh cinta sama Pria” “Kamu kemarin waktu jalan sama Pria liat wallpaper ponselnya ngga?” “Engga sih mana sempat aku melirik ponsel milik orang, ngga etis aja menurutku, emang kenapa?” “Pria bilang, dia sengaja pasang gambar cewe biar kamu ngga baper. Dan cewe itu mantan dia. Saranku lupain dia aja ya, kamu berhak dapet yang lebih baik dari dia” Hati saya yang awalnya berbunga-bunga menjadi runtuh tak tersisa. Sa...

Pena Pejuang

Resiko dari impianku teramat besar; kematian. Setiap hari yang ku dengar dari IDI hanyalah pahlawanku yang berguguran. Namun segala resiko besar telah ku ambil sejak pertama kali aku mulai berjuang. Aku tak takut apapun yang terjadi. Yang ku tahu, aku di sini berjuang untuk memanusiakan manusia. Pernahkah aku menangis ketika sedang berjuang? Pernah, namun ketika aku merasa lelah dan ingin menyerah aku hanya ingat bahwa yang berjuang tidak hanya aku, orang tuaku pun menunggu bersama doa-doa baik mereka untuk putri semata wayangnya. Aku bangga pada diriku sendiri yang telah berhasil melewati jutaan air mata setiap kali sedang berada di bawah. Terima kasih jiwa dan ragaku, kita kuat untuk berjuang hingga mendapatkan sebuah penghargaan berupa gelar dr di depan nama. - ADELIA YUNIKA UTAMI -

Abstrak

Katamu aku nyata Tapi sekadar bersapa saja tak bisa Katamu aku spesial Tapi pesanku kau anggap bual Aksaraku tak mampu membendung rasaku Aku memang bukan prioritasmu Lalu mengapa masih saja mengusikku? Hatiku hanya butuh kesungguhan Karena bukan sekadar tempat singgah Maaf, tuan Dermagamu bukan aku Lekaslah berkemas dan meneruskan perjalanan Hampiri ia yang kau sebut sebagai pelabuhan Aku yakin Kapalmu tak akan karam Pergilah Jemputlah bahagiamu; bukan aku - Adelia Yunika Utami -

Rasa yang sama

Tulisan ini bukan sebuah cara untuk mendiskriminasi kamu, bukan pula ajang protes dariku, apalagi  tempat untuk menyudutkan kamu Tulisan ini bentuk perasaanku yang masih sama, masih saja tetap singgah pada orang yang salah Aku tahu, tidak seharusnya rasaku tetap tinggal. Terbang bebas mengintari cakrawala. Tapi, bagaimana mungkin? Bahwasanya kamulah yang paling berkesan Membuatku jatuh teramat dalam, lalu... entahlah... Kamu biarkan ceritaku menggantung, dan berhenti sebelum tanda titik Jika kamu bertanya, bagaimana aku sekarang? Jawabannya masih sama, aku masih di sini bersama rasa yang tetap sama. - ADELIA YUNIKA UTAMI -

Masih Ingat?

Tentang kamu, Tentang aku, Dan tentang kita, kemarin. Kita; dua insan yang disatukan dalam ketidaksengajaan. Memiliki kesamaan dalam berbagai hal, salah satunya tempat favorit. Dalam jajaran rak buku yang menjulang tinggi, kita bersatu dengan kedamaian. Saling membuka jendela dunia, dan berharap bisa tukar pikiran. Tapi belum selesai ku baca hingga halaman terakhir, kamu pergi begitu saja. Kita berbeda arah, memang lebih baik menjadi masing-masing, Terimakasih pernah menjadi pelengkap. Semoga kamu lebih bahagia dengan pilihanmu. - Adelia Yunika Utami -