“Yuk!”
Sampai saat ini aku masih tidak menyangka, seorang pria yang ku temui melalui sebuah foto di tahun 2019. Yang awalnya dingin sedingin salju di kutub, sekarang bisa sehangat matahari.
Ia adalah satu-satunya pria yang secara terang-terangan ku minta dan ku diskusikan bersama Semesta melalui sujud di sepertiga malam.
Ku sebut ia Matahari, seorang pria yang selalu antusias menyambut hadir dan tenggelamnya sang mentari. Aku tidak menginginkan hadirnya hanya sementara waktu saja. Aku mau ia selamanya; menjadi penerang di saat duniaku sedang redup, menjadi penenang ketika aku butuh sebuah hangat peluk, dan menjadi pemenang dari jutaan cerita yang pernah singgah.
Jogja.
Jogja menjadi tempat pertama pertemuan kita, bahkan segala cerita tangis dan tawa ada di sana. Jogja menjadi saksi bisu bagaimana aku mendambakan seorang pria yang pada awalnya sangat susah digapai, sekaligus tempat dimana pria yang selalu ku dambakan bersikap hangat padaku.
Semesta selalu berhasil membuat cerita yang menakjubkan. Bagaimana alur cerita kita nanti, aku selalu bersyukur karena Semesta telah hadirkan kamu di kehidupanku.
Aku menyayangimu selalu, Matahari.
Komentar
Posting Komentar