Langsung ke konten utama

Rumpang

Terkadang sesekali aku berusaha mengingat tentang pertemuan kita yang begitu singkat rasanya. Mungkin memang hanya aku yang mengingatnya.

Bagaimana tidak? Aku menganggapnya sebagai kesan yang begitu berharga. Karena setelahnya, aku mulai berani mendamba. Menggantungkan harap tanpa terencana. Kemudian aku dengan terang meminta dan menyemogakanmu dalam bentuk doa. Sampai akhirnya aku sempat merasakan bagaimana sulitnya memperjuangkanmu dalam keadaan sebagai pengagum rahasia saja.

Aku tidak bisa seperti mereka yang bisa dengan lantang menyuarakan rasanya dan mengejar dengan berbagai upaya. Aku pernah merasa mencintaimu begitu dalam. Tanpa pernah bisa ku duga bahwa mungkin saja di kemudian hari rasa itu akan memudar atau bahkan hilang. Aku hanya berani memintamu secara diam-diam. Walau ada banyak luka yang harus ku tahan dengan begitu besarnya pilu yang selalu berusaha ku sembunyikan.

Sekarang aku berhenti.
Bukan tidak lagi peduli.
Bukan tidak lagi ingin memiliki.
Hanya saja aku ingin belajar menyadari bahwa rasa bukanlah obsesi. Dan tidak semua mimpi bisa terjadi secepat apa yang ku ingini.

Terima kasih ya, untuk kenangan manis atau kesempatan jatuh hati yang tidak pernah sengaja kau beri. Aku belajar banyak hal tentang ketulusan, tentang mencintai yang memang tidak mengharapkan balasan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Satu Waktu

Jadi beberapa waktu yang lalu saya diberi kesempatan oleh Semesta untuk mengenal seseorang. Sebut saja ia Pria. Saya sudah tahu Pria sejak awal tahun 2019, namun kesempatan mengenalnya baru terlaksana di awal tahun ini. Pertemuan pertama dengan Pria, yang saya tahu dia sedikit kritis juga senang diskusi. Ada beberapa sisi dari dirinya yang membuat saya merasa sedikit kagum. Saya kira rasa ini hanya sekadar kagum, ternyata lebih karena saya telah jatuh hati secara sadar kepada Pria. Namun rasa itu dipaksa pudar karena Pria tak menginginkan itu dari saya. “Kak, aku kayanya lagi jatuh cinta sama Pria” “Kamu kemarin waktu jalan sama Pria liat wallpaper ponselnya ngga?” “Engga sih mana sempat aku melirik ponsel milik orang, ngga etis aja menurutku, emang kenapa?” “Pria bilang, dia sengaja pasang gambar cewe biar kamu ngga baper. Dan cewe itu mantan dia. Saranku lupain dia aja ya, kamu berhak dapet yang lebih baik dari dia” Hati saya yang awalnya berbunga-bunga menjadi runtuh tak tersisa. Sa...

Dia Matahariku

“Kita nonton sunset aja yuk, mau?” “Yuk!” Sampai saat ini aku masih tidak menyangka, seorang pria yang ku temui melalui sebuah foto di tahun 2019. Yang awalnya dingin sedingin salju di kutub, sekarang bisa sehangat matahari. Ia adalah satu-satunya pria yang secara terang-terangan ku minta dan ku diskusikan bersama Semesta melalui sujud di sepertiga malam. Ku sebut ia Matahari , seorang pria yang selalu antusias menyambut hadir dan tenggelamnya sang mentari. Aku tidak menginginkan hadirnya hanya sementara waktu saja. Aku mau ia selamanya; menjadi penerang di saat duniaku sedang redup, menjadi penenang ketika aku butuh sebuah hangat peluk, dan menjadi pemenang dari jutaan cerita yang pernah singgah. Jogja. Jogja menjadi tempat pertama pertemuan kita, bahkan segala cerita tangis dan tawa ada di sana. Jogja menjadi saksi bisu bagaimana aku mendambakan seorang pria yang pada awalnya sangat susah digapai, sekaligus tempat dimana pria yang selalu ku dambakan bersikap hangat padaku. Semesta se...

Masih Ingat?

Tentang kamu, Tentang aku, Dan tentang kita, kemarin. Kita; dua insan yang disatukan dalam ketidaksengajaan. Memiliki kesamaan dalam berbagai hal, salah satunya tempat favorit. Dalam jajaran rak buku yang menjulang tinggi, kita bersatu dengan kedamaian. Saling membuka jendela dunia, dan berharap bisa tukar pikiran. Tapi belum selesai ku baca hingga halaman terakhir, kamu pergi begitu saja. Kita berbeda arah, memang lebih baik menjadi masing-masing, Terimakasih pernah menjadi pelengkap. Semoga kamu lebih bahagia dengan pilihanmu. - Adelia Yunika Utami -