Terkadang sesekali aku berusaha mengingat tentang pertemuan kita yang begitu singkat rasanya. Mungkin memang hanya aku yang mengingatnya.
Bagaimana tidak? Aku menganggapnya sebagai kesan yang begitu berharga. Karena setelahnya, aku mulai berani mendamba. Menggantungkan harap tanpa terencana. Kemudian aku dengan terang meminta dan menyemogakanmu dalam bentuk doa. Sampai akhirnya aku sempat merasakan bagaimana sulitnya memperjuangkanmu dalam keadaan sebagai pengagum rahasia saja.
Aku tidak bisa seperti mereka yang bisa dengan lantang menyuarakan rasanya dan mengejar dengan berbagai upaya. Aku pernah merasa mencintaimu begitu dalam. Tanpa pernah bisa ku duga bahwa mungkin saja di kemudian hari rasa itu akan memudar atau bahkan hilang. Aku hanya berani memintamu secara diam-diam. Walau ada banyak luka yang harus ku tahan dengan begitu besarnya pilu yang selalu berusaha ku sembunyikan.
Sekarang aku berhenti.
Bukan tidak lagi peduli.
Bukan tidak lagi ingin memiliki.
Hanya saja aku ingin belajar menyadari bahwa rasa bukanlah obsesi. Dan tidak semua mimpi bisa terjadi secepat apa yang ku ingini.
Terima kasih ya, untuk kenangan manis atau kesempatan jatuh hati yang tidak pernah sengaja kau beri. Aku belajar banyak hal tentang ketulusan, tentang mencintai yang memang tidak mengharapkan balasan.
Komentar
Posting Komentar