Akhirnya setelah sekian purnama menghilang dari peradaban, Menit ini dan detik ini juga ku sempatkan waktu untuk bersua dengan mesin ketik. Sebetulnya aku sedang berkawan dengan keyboard pada laptop kesayanganku ini, namun akhir-akhir ini memang lebih sering ku gunakan untuk menyelesaikan skripsi 😆 Hari ini kegiatanku cukup senggang; ya hanya gitu-gitu saja sih. Iseng-iseng buka spotify, aku langsung disambut hangat oleh bait manis. Menangislah, tak apa-apa Dunia takkan selalu ramah Orang jahat itu ada Lalu jadilah orang baik begitulah kira-kira kutipan bung Fiersa dalam lagu Judulnya adalah Namamu . Menanggapi lirik di atas aku mengambil kesimpulan bahwa menjadi orang baik itu mudah, justru yang sulit adalah bertahan jadi baik. Sebab berdasarkan pengalaman pribadiku, jadi orang baik itu banyak sekali cobaannya. Aku pun tak mengelak bahwa semua orang pernah merasa dalam tekanan dan guncangan saat menginjak proses bertahan jadi baik. Namun yang harus ...
“Kita nonton sunset aja yuk, mau?” “Yuk!” Sampai saat ini aku masih tidak menyangka, seorang pria yang ku temui melalui sebuah foto di tahun 2019. Yang awalnya dingin sedingin salju di kutub, sekarang bisa sehangat matahari. Ia adalah satu-satunya pria yang secara terang-terangan ku minta dan ku diskusikan bersama Semesta melalui sujud di sepertiga malam. Ku sebut ia Matahari , seorang pria yang selalu antusias menyambut hadir dan tenggelamnya sang mentari. Aku tidak menginginkan hadirnya hanya sementara waktu saja. Aku mau ia selamanya; menjadi penerang di saat duniaku sedang redup, menjadi penenang ketika aku butuh sebuah hangat peluk, dan menjadi pemenang dari jutaan cerita yang pernah singgah. Jogja. Jogja menjadi tempat pertama pertemuan kita, bahkan segala cerita tangis dan tawa ada di sana. Jogja menjadi saksi bisu bagaimana aku mendambakan seorang pria yang pada awalnya sangat susah digapai, sekaligus tempat dimana pria yang selalu ku dambakan bersikap hangat padaku. Semesta se...